PERTEMUAN KE 11 : Jenis cedera dalam olahraga
JENIS-JENIS CEDERA DALAM OLAHRAGA

A. Pengertian Cedera Olahraga
Cedera olahraga merupakan cedera yang terjadi pada otot, sendi atau tulang selama olahraga atau latihan. Jenis cedera olahraga pun beragam. Jika Anda melakukan olahraga kemungkinan untuk cedera olahraga mungkin saja terjadi. Biasanya anak-anak lebih berisiko mengalami cedera. Perkiraan Stanford Children’s Health menyebutkan bahwa lebih dari 3,5 juta anak dan remaja cedera sebagai bagian dari olahraga atau aktivitas fisik setiap tahun. Sepertiga dari semua cedera yang terjadi pada anak-anak juga terkait dengan olahraga. Umumnya cedera olahraga yang dialami anak-anak adalah kesleo dan tegang. Olahraga kontak fisik, seperti sepak bola dan bola basket, menyebabkan lebih banyak cedera daripada olahraga non-kontak, seperti renang dan lari.
B. Risiko Penyebab Cedera Olahraga
Sebelum mengetahui jenis cedera olahraga lainnya, kenali juga risiko penyebab cedera. Siapa pun dapat mengalami cedera olahraga. Entah itu usia muda, tua, baik laki-laki maupun wanita tidak luput dari cedera olahraga. Namun, beberapa faktor tertentu dapat meningkatkan risiko cedera. Misalnya saja tidak melakukan pemanasan saat olahraga dan bermain olahraga kontak fisik, seperti sepak bola juga memngaruhi risiko cedera. Faktor lain risiko yang menyebabkan cedera meliputi:
a) Masa kecil
Biasanya anak-anak lebih berisiko mengalami cedera olahraga karena sifat aktif mereka. Terkadang anak-anak sering kali tidak mengetahui batasan fisik mereka sehingga mereka mungkin lebih mudah untuk mendorong diri melampaui batas, yang kemudian menyebabkan terluka atau cedera.
b) Usia
Seiring bertambahnya usia, maka semakin besar kemungkinan Anda mengalami cedera. Faktor usia juga dapat meningkatkan kemungkinan Anda mengalami cedera olahraga yang berkepanjangan. Cedera baru dapat juga memperparah cedera sebelumnya.
c) Kurangnya perawatan
Terkadang cedera serius dimulai dari cedera kecil. Jika sebelumnya pernah mengalami cedera, seperti tendonitas dan patah tulang segera lakukan pemeriksaan dengan dokter. Pasalnya dokter dapat menangani lebih dini cedera yang dialami Apabila tidak ditangani atau diabaikan cedera dapat berkembang menjadi cedera serius.
d) Kelebihan Berat Badan
Ketika seseorang membawa beban lebih berat dapat memberikan tekanan yang berlebih pada persendian terutama pinggul, lutut, dan pergelangan kaki. Lalu, tekanan semakin besar saat olahraga sehingga meningkatkan risiko cedera olahraga.
C. Jenis Cedera Olahraga
Jenis-jenis cedera ada beberapa macam, yaitu :
a) Cedera ringan adalah cedera yang tidak diikuti kerusakan yang berarti pada jaringan tubuh, misalnya kekuatan otot dan kelelahan. Pada cedera ringan biasanya tidak memerlukan pengobatan apapun, dan akan sembuh dengan sendirinya setelah istirahat beberapa waktu.
b) Cedera sedang ialah kerusakan jaringan yang lebih nyata, dan berpengaruh terhadap performa olahragawan. Keluhan berupa nyeri, bengkak, dan gangguan fungsi, misalnya lebar otot, strain otot, tendon-tendon, dan robeknya ligamen (sprain gerak)
c) Cedera berat adalah cedera yang serius, diytandai dengan adanya kerusakan pada jaringan tubuh, misalnya kerobekan otot hingga putus, maupun fraktur tulang yang memerlukan istirahat total, pengobatan intensif bahkan operasi.
D. Macam-macam Cedera Olahraga
Menurut Mirkin dan Hoffman (1984: 107) struktur jaringan didalam tubuh yang sering mengalami cedera olahraga adalah otot, tendo, tulang, persendian termasuk tulang rawan, ligamen, dan fasia. Sedangkan menurut Taylor (1997:63) macam-macam cedera yang mungkin terjadi adalah memar, cedera pada otot atau tendo dan cedera ligamentum, dislokasi, patah tulang, kram otot dan perdarahan pada kulit.
a) Memar (kontusio)
Menurut Ronald P. Pfeiffer (2009:38) memar merupakan cedera yang disebabkan oleh benturan benda keras pada jaringan linak tubuh. Pada memar, jaringan dibawah permukaan kulit rusak dan pembuluh darah kecil pecah sehingga darah dan cairan seluler merembes kejaringan sekitarnya.
b) Kram Otot
Kram otot merupakan kontraksi otot tertentu yang berlebihan dan terjadi secara mendadak dan tanpa disadari. Menurut Kartono Mohammad (2001) kram otot terjadi karena letih, biasanya terjadi saat malam hari atau karena kedinginan, dan dapat pula karena panas, dehidrasi, trauma pada otot yang bersangkutan atau kekurangan magnesium.
c) Lepuh (blisters)
Menurut Ronald P. Pfeiffer (2009:36) lepuh merupakan timbulnya benjolan di kulit dan didalamnya terdapat cairan berwarna bening. Lepuh terjadi akibat penggunaan peralatan yang tidak pas, peralatan masih baru, atau peralatan yang lama seperti sepatu yang terlalu kecil.
d) Cedera pada Otot Tendo dan Ligamen
Menurut Hardianto Wibowo (1995: 20) strain adalah cedera yang menyangkut cedera otot dan tendon. Strain dapat dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu:
· Tingkat I Strain tingkat ini tidak ada robekan, hanya terdapat kondisi inflamasi ringan. Meskipun pada tingkat ini tidak ada penurunan kekuatan otot, tetapi pada kondisi tertentu cukup mengganggu atlet.
· Tingkat II Strain pada tingkat ini sudah terdapat kerusakan pada otot atau tendon sehingga dapat mengurangi kekuatan otot
· Tingkat III Strain pada tingkat ini sudah terjadi kerobekan yang parah atau bahkan sampai putus sehingga diperlukan tindakan operasi atau bedah dan dilanjutkan dengan fisioterapi dan rehabilitasi.
E. Penanganan Cedera Olahraga
Metode pengobatan ini sebaiknya dilakukan sesegera mungkin sesaat setelah terjadinya cedera, dan tetap efektif dilakukan dalam 4 jam pertama sejak cedera. Biasanya metode ini digunakan untuk mengatasi cedera olahraga ringan. Metode RICE efektif membantu mengurangi pembengkakan, mencegah rasa sakit dan mempercepat kesembuhan bila dilakukan dalam 4 jam sejak cedera olahraga. Metode RICE yang dimaksud ialah sebagai berikut:
· Rest, istirahatkan tubuh yang mengalami cedera
· Ice, Letakkan ice pack atau es batu yang dibungkus kain ke bagian tubuh yang mengalami cedera untuk mengurangi perdarahan, memar.
· Kompresi, balut atau berikan tekanan lembut pada bagian tubuh yang cedera agar tidak mengalami pembengkakan.
· Elevation, pengangkatan merupakan cara menahan bagian cedera berada di posisi yang lebih tinggi dari tubuh. Metode ini dilakukan untuk mengurangi nyeri dan mengurangi aliran darah ke bagian cedera yang menambah parah peradangan.
Komentar
Posting Komentar